TRIBUNJAKARTA.COM, KELAPA GADING — Mantan drummer band Radja, Seno Aji Wibowo, kini menempuh jalan baru setelah resmi mundur dari band yang membesarkan namanya.

Bersama sang istri, Femia Septiani, ia membuka usaha kuliner unik bernama Tjahaya District yang berlokasi di Jalan Boulevard Timur Blok NB 1, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Bukan sekadar warung makan rumahan, tempat ini menerapkan konsep yang tak biasa yakni "Makan sepuasnya, bayar seikhlasnya".

Terinspirasi dari Yogyakarta

Seno mengungkapkan ide tersebut muncul dari pengalaman saat dirinya dan keluarga sering berkunjung ke Yogyakarta.

“Kita sering makan di satu tempat namanya Kopi Lali. Konsepnya makan rumahan, makan sepuasnya bayar seikhlasnya. Kita punya cita-cita, someday kalau punya bisnis ingin berbagi seperti itu,” ujar Seno saat berbincang dengan TribunJakarta.com beberapa waktu lalu.

Menurutnya, konsep berbagi menjadi nilai utama yang ingin dihadirkan di warung makan tersebut.

Seno Aji Wibowo
Eks drummer Radja, Seno Aji Wibowo kini beralih profesi terjun ke bisnis kuliner dengan konsep bayar sepuasnya.

Menu Rumahan, Enam Varian Setiap Hari

Meski terinspirasi dari Jogja, Femia menegaskan bahwa menu yang disajikan berbeda.

“Menunya beda. Ini masakan rumahan. Tergantung hari ini mau masak apa, biasanya tanya anak-anak mau apa,” kata Femia.

Setiap hari tersedia sekitar enam menu yang terus berganti. Hari itu, menu makan yang disajikan yakni telur dadar, ayam, mie goreng, bakwan dan sambal goreng.

“Kalau hari ini ayam, besok ikan. Di-rolling aja terus,” ujarnya.

Proses memasak pun dilakukan sendiri oleh Femia dengan bantuan beberapa pegawai.

Rata-Rata Bayaran Rp 15–20 Ribu, Pernah Dapat Rp 49.

Konsep bayar seikhlasnya membuat jumlah pembayaran dari pembeli sangat bervariasi.

“Rata-rata Rp 15 sampai Rp 20 ribuan. Tapi ada yang bayar Rp 100 ribu. Pernah juga dapat Rp 49 rupiah lewat QRIS,” ungkap Femia.

Meski ada yang membayar sangat kecil, mereka tetap menerimanya dengan lapang dada.

“Namanya seikhlasnya ya sudah. Mungkin memang nggak mampu, atau mau ngetes. Kita nggak tahu,” ujar Seno menimpali.

Menurut keduanya, ada juga yang memberi lebih sehingga terjadi subsidi silang untuk bisnis kuliner yang baru dirintisnya sejak 10 Oktober 2025.

Didatangi Karyawan, Pengamen, Hingga Badut Jalanan

Sejak dibuka, pembeli Tjahaya District datang dari berbagai kalangan. 

Sebagian besar adalah karyawan sekitar ruko, tetapi banyak pula yang berasal dari kalangan lain.

Femia menceritakan salah satu momen mengharukan ketika seorang anak kecil dari rombongan badut jalanan masuk ke warungnya.

“Begitu masuk, ruangannya dingin, anak badutnya dia langsung guling-gulingan di lantai. Senang banget. Saya lihatnya sampai terharu,” tuturnya.

Ada pula penjual kopi keliling yang rutin makan di sana. Suatu hari, saat menerima gajinya, ia datang membawa es coklat untuk Femia.

“Dia bilang, ‘Ibu, ini es coklat buat ibu’. Ya Allah, terenyuh banget,” cerita Femia.

Kisah lain datang dari seorang pria yang awalnya hanya mampu membeli nasi putih karena hanya memiliki Rp 5.000. 

Setelah dibantu diberi lauk, ia kembali beberapa hari kemudian membawa parfum sebagai bentuk terima kasih.

Didoakan Banyak Orang

Femia mengaku konsep bayar seikhlasnya bukan tanpa risiko. Namun bagi mereka, keberkahan justru datang dari hal-hal yang tak dapat dihitung dengan uang.

“Kita tentu cari untung, apalagi bapak sudah tidak ngeband lagi. Tapi yang penting kita jalan dengan bismillah. Yang bikin semangat itu doa dari banyak orang,” katanya.

Seno menambahkan, banyak pembeli yang mendoakan usaha mereka setiap kali selesai makan.

“Ada yang bilang semoga berkah, semoga masuk surga sejasat-jasatnya. Itu menghibur lebih dari materi,” ujarnya.

Empat Lantai: Tempat Makan, Studio Balet, Studio Musik, dan Biliar

Tjahaya District bukan sekadar warung makan. Gedung empat lantai ini memiliki fungsi berbeda-beda.

Lantai 1: warung makan bayar seikhlasnya

Lantai 2: studio dance dan balet hasil kerja sama dengan On Point Ballet School

Lantai 3: studio musik

Lantai 4: ruang biliar untuk hiburan

Seno mengungkapkan bahwa studio musiknya kini bahkan sudah memiliki pelanggan tetap untuk rekaman.

“Ada yang lagi garap dua lagu, sudah dua minggu rekaman, lanjut minggu depan,” jelasnya.

Makna ‘Tjahaya’ 

Femia menjelaskan filosofi nama Tjahaya District.

“Harapannya, Tjahaya ini bisa jadi cahaya buat semua orang yang butuh. Bukan cuma makan, tapi juga ilmu. Kalau ada anak berbakat di balet atau rekaman tapi tidak mampu, tidak menutup kemungkinan dapat beasiswa.”

Ke depan, mereka berencana menambah menu sarapan dan menjual aneka kue reguler untuk memperkuat subsidi silang bagi konsep seikhlasnya.

Seno berharap usaha ini bisa diakses semua kalangan.

“Dari kelas paling bawah sampai paling atas, silakan datang. Kita nggak pilih-pilih,” ucapnya.

BERITA TERKAIT

Array
Baca Lebih Lanjut
Cerita Dimas Bayar Parkir di MT Haryono Semarang, Sudah Siapkan QRIS Malah Suruh Tunai
Deni setiawan
Franki Indrasmoro rilis “Victory Song” rayakan kemenangan diri
Antaranews
Listrik Masih Padam, Warga Abdya Ramai-ramai Padati Warung Kopi
Saifullah
Crayon Shinchan Cafe Jakarta Kapan Buka? Ini Hari dan Tanggalnya
Jendela Dunia
Menkes Ungkap Cara Simpel Cegah Gula Darah Melonjak Meski Porsi Makan Banyak
Detik
Resto di Jepang Ini Larang Turis Datang Saat Jam Makan Siang, Kenapa Ya?
Detik
106 Penunggak Pajak Akhirnya Bayar Rp 11,9 Triliun ke Kas Negara
KumparanBISNIS
Los Angeles FC Tersingkir dari Play-off MLS, Adrian Wibowo Kini Bisa Dipanggil Timnas U-22 Indonesia ke SEA Games 2025
Najm Ula
Jukut Goreng Samali: Nasi Jukut ala Epy Kusnandar yang Sedap Pakai Sambal Ijo
Detik
Pameran Keris Tosan Aji di Demak Hadirkan Pusaka Langka dari Lombok hingga Mojokerto
Muslimah